Pages

Wednesday, December 27, 2017

MAKALAH Rumpun bahasa Austronesia

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Bahasa sebagai alat komunikasi sudah barang tentu menunjang berbagai aktifitas hidup manusia. Apabila bahasa berperan sebagai alat berkomunikasi, baik itu mengunakan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional.
Berangkat dari hal tersebut kami penulis membahas singkat dari segi fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia. Selain itu pula penulis dilatar belakangi dengan tugas perkuliahan dan sebagian bangsa Indonesia belum memahami fungsi dan kedudukan bahasa Indoonesia sebagai bahasa Nasional. Sehingga tidak sedikit bahasa Indonesia dijadikan bahasa kedua setelah bahasa Daerah.
B.     Rumusan masalah
1.  Bagaimana Kedudukan Bahasa Indonesia Dalam Rumpun Dan Kelompok   Bahasa Austronesia ?
2.   Apa Fungsi Bahasa Indonesia Dalam UUD 1945?
3.  Apa Pengertian Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Indonesia ?
4. bagaimana Upaya Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Indonesia ?














BAB II
PEMBAHASAN

1.      KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA DALAM RUMPUN DAN KELOMPOK BAHASA AUSTRONESIA
Rumpun bahasa Austronesia (atau kadang disebut "bahasa kepulauan") adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.
Kebanyakan bahasa-bahasa Austronesia tidak mempunyai sejarah panjang dalam bentuk tertulis, sehingga upaya untuk merekonstruksi bentuk-bentuk yang lebih awal, yaitu sampai pada Proto-Austronesia, menjadi lebih sulit. Prasasti tertua dalam bahasa Cham, yaitu Prasasti Dong Yen Chau yang diperkirakan dibuat pada abad ke-4 Masehi, sekaligus merupakan contoh bukti tertulis tertua pula bagi rumpun bahasa Austronesia.
Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau".
Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa Melayu di pesisir Sri Langka
Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika. Penelaahan dari ilmu genetika memberikan hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28) menemukan hal ini ketika ia menulis:
. Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia secara kesuluruhan.
Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan di antara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.
Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina, Indonesia, kemudian ke Madagaskar dekat benua Afrika dan ke seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia Bukti dari ilmu sejarah bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang lalu Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani celah antara dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):
Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi kepulauan Penghu di antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutama apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar.
Analisis kebahasaan dari bahasa Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi setelah penyebaran bangsa Austronesia

2.      FUNGSI BAHASA INDONESIA DALAM UUD 1945
Sejarah bahasa Indonesia;
Bahasa indonesia adalah dialek kaku dari bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap “lahir” atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928 atas usulan Mohammad Yamin. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.tepatnya pada saat hari Kemerdekaan
Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu “kami” dan “kita”. “Kami” adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan “kita” adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.
Susunan kata dasar adalah Subjek – Predikat – Objek-Keterangan (SPOK), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala/waktu (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, “kemarin” atau “besok”), atau indikator lain seperti “sudah” atau “belum”.Dan Bahasa Indonesia di atur dalam UUD 1945 pada pasal 36 yaitu “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
Berdasarkan fungsinya bahasa Indonesia dibagi menjadi 5 fungsi;


1. Ekspresif
Contohnya;mampu menggungkapkan gambaran,maksud ,gagasan, dan perasaan.
2. Komunikasi
Contohnya; sebagai alat berinteraksi atau hubungan antara dua manusia dan sehingga pesan yang dikmaksudkan dapat dimengerti.
3. Kontrol sosial
contohnya; tulisan “dilarang merokok” bahasa tersebut berfungsi sebagai pengatur atau pengontrol
4. Adaptasi
Contohnya;bila kita berada di wilayah atau daerah yang asing atau diluar ibu kota, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia tersebut sebagai alat untuk adaptasi dengan lingkungan baru tersebut.
5. Integrasi/pemersatu
Contohnya;bahasa-bahasa yang berbeda atau beraneka ragam dan dipersatukan oleh bahasa Nasional yang dapat dipakai di seluruh Indonesia yang menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat.
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional di ikrarkan pada 28 oktober 1928 yaitu hari “Sumpah Pemuda” yang memilki fungsi-fungsi sebagai;
1. Lambang identitas Nasional.
2. Lambang kebanggaan kebangsaan.
3. Bahasa indonesia sebagai alat komunikasi.
4. Alat pemersatu bangsa yang berbeda Suku,Agama,ras,adat istiadat dan Budaya.
Hasil perumusan seminar polotik bahasa Nasional yang diselenggarakan di jakarta pada tangal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan berdasarkan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara adalah;
1. Sebagai bahasa resmi kenegaraan.
2. Sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan.
3. Sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, dan
4. Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi.
-           

-          Rumusan seminar politik bahasa
Jakarta 3-6 Juni 2015
Seminar politik bahasa 2015 merupakan forum pemutahiran kebijakan nasional kebahasaan atas rumusan politik yang dihasilkan dari dua seminar terdahulu yang diselenggaran pada tahun 1975 dan 1999. Seminar yang ketiga ini dihadiri 250 peserta yang terdiri atas pengambil kebijakan, pakar, dosen, guru sastrawan , budayawan, pemuda, peminat serta pemerhati bahasa dan sastra setelah mendengar dan memperhatikan laporan ketua panitia pelaksana seminar dan sambutan kepala badan pengembangan dan pembinaan bahasa, serta membahas delapan makalah sidang pleno dengan subtema sebagai berikut.
1.      Merajut kebinekaan bahasa sebagai pemerkukuh ikatan kebangsaan
2.      Strategi kebahasaan untuk memperkukuh ikatan negeri bali
3.      Perspektif lingustik diakronis dan ikatan kebangsaan
4.      Bahasa melayu sebagai pendukung internasionalisasi bahasa Indonesia
5.      Penguatan wawasan kebangsaan melalui bahasa sebagai tantangan dunia global
6.      Identifikasi konflik dan ancaman disintegrasi melalui gejala kebahasaan
7.      Bahasa-bahasa di Indonesia wilayah timur sebagai penopang internasionalisasi bahasa Indonesia
8.      Penegakan integritas bahasa melalui layanan public nasional dan internasional
Forum ini secara umum memandang bahwa pemahaman terhadap kebebasan pada era reformasi dan globalisasi telah menyebabkan karut marutnya penggunaan bahasa diruang public dan menimbulkan dugaan terjadinya pembiyaran atas karut marutnya itu secara sistematis oleh karena itu, dipandang penting pengambilan langkah-langkah pembinaan, selain langkah-langkah pengembangan dan pelindungan bahasa serta pengembangan strategi dan diplomasi kebahasaan untuk menjaga keseimbangan antara upaya penciptaan kesergaman dan pengelolaan keberagaman bahasa di Indonesia serta untuk memajukan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa internasional, terutama diasia tenggara, guna membangkitkan kembali semangat sumpah pemuda 1928.
      Pandangan tersebut terurai dalam hasil seminar berupa paparan makalah dan cacatan atas ramu pendapat yang berkembang dalam seminar sebagai mana terlapir. Selanjutnya, seluruh hasil politik bahasa 2015 ini hendaknya digunakan sebagai bahan rekomendasi kebijakan nasional kebahasaan

3.      PENGERTIAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA
 Pembinaan bahasa merupakan upaya sadar, terencana dan sisitematis tentang peningkatan mutu bahasa sehingga masyarakat pemakainya memiliki kebanggaan dan kegairahan menggunakannya.Pengembangan bahasa adalah keseluruhan usaha dan kegiatan yang dengan secara sadar ditujukan kepada penyesuaian struktur dan fungsi bahasa dengan kebutuhan kemasyarakatan dan pembangunan kita, baik yang nyata maupun yang mungkin ada (potensial) dalam hubungannya dengan perkembangan keilmuan dan teknologi dunia sekarang ini serta dengan kemungkinan–kemungkina bagi masa depan.
Upaya dalam pembinaa bahasa antara lain, melalui pengajaran, pemasyarakatan, peran media massa, dan jalur kepemimpinan. Pengembangan bahasa dilakukan melalui pengembangan kosakata/istilah, perluasan pemekaian bahasa, pembinaan kepada masyarakat, penelitian bahasa, dan pengembangan melalui media massa. Permasalahan yang dihadapi dalam upaya pembinaan dan  pengembangan bahasa Indonesia.
Permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan bahasa adalah Persoalan mendasar adalah masih rendahnya sikap positif berbahasa Indonesia di masyarakat penutur bahasa Indonesia. Kompetensi berbahasa Indonesia dianggap tidak penting dikuasai, sebaliknya penguasaan bahasa asing sangat didambakan. Sikap meremehkan bahasa Indonesia ini berakibat pada tidak dipelajarinya segala aturan kebahasaan Indonesia. Walhasil, bahasa Indonesia yang yang digunakan cendrung salah. Awak media massa belum sepenuhnya menyugukan bahasa Indonesia yang diharapkan. Penggunaan kalimat yang tidak efektif, diksi yang tidak tepat, atau pengggunaan kata/istilah bahasa Indonesia yang tidak konsisten banyak dtemukan di beragam media. Pejabat pun masih banya yang belum konsisten menggunakan bahasa Indonesia.
Permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan bahasa Indonesia adalah masih banyak kosakata atau istilah. Mungkin juga kata-kata atau istilah-istilah tersebut sudah diindonesiakan, tetapi kata atau pun istilah Indonesia-nya kalah populer dengan bentuk asingnya. Sosialisasi pembinaan dan pembinaan bahasa masih minim.  Belum dipahaminya pedoman pembentukan kata dan istilah dengan benar dapat memunculkan kata atau istilah baru yang salah. Sikap positif berbahasa pun belum tertanam pada masyarakata Indonesia.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengemukakan delapan permasalahan dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yaitu: rendahnya kemahiran membaca (reading skill) dalam pengukuran PISAOECDtahun 2012,rendahnya nilai UN bahasa Indonesia,rendahnya jumlah penutur muda bahasa daerah, belum meratanya dukungan bahasa daerah ke dalam lema bahasaIndonesia,belum terstandarnya kemahiran berbahasa indonesia pendidik dantenaga kependidikan,terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan kebahasaan,terbatasnya keterlibatan publik dalam penanganan kebahasaan,belum memadainya sarana dan prasarana layanan kebahasaan didaerah.
Solusi terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia
Untuk meningkatkan kembali eksistensi bahasa Indonesia strategi yang ditempuh untuk meningkatkan pembinaan bahasa Indonesia maka strategi yang kiranya dapat ditempuh adalah (1) menyadarkan diri pemakai bahasa akan pentingnya memiliki sikap positif berbahasa Indonesia, (2) peningkatan penggunaan bahasa dengan baik dan benar di kalangan pejabat dan awak media massa, (3) menghilangkan rasa “malu” dan “enggan” dalam mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, (4) pembatasan penggunaan bahasa Inggris, bahasa daerah, ataupun bahasa gaul dalam berkomunikasi formal, (5) penanaman pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar, (6) menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa, (7) peningkatan mutu sumber daya para pakar, dan (8) kegiatan penyuluhan bahasa di luar bulan bahasa dan sastra.
Solusi terhadap problematik pengembangan bahasa Indonesia adalah memperkuat ekosistem pendidikan, Pengembangan yang seimbang dan harmoni antara bahasa nasional danbahasa daerah, dan Penguatan karakter dan jati diri bangsa.

-          UPAYA PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Era globalisasi yang ditandai dengan arus komunikasi yang begitu dahsyat dan akan menyentuh semua aspek kehidupan, termasuk bahasa. Menuntut oara pengambil kebijakan di bidang bahasa bekerja lebih keras untuk lebih menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan masalah pembinaan bahasa.
 Melihat perkembangan bahasa Indonesia di dalam negeri yang cukup pesat, perkembangan di luar negeri pun sangat menggembirakan. Data terakhir menunjukkan setidaknya 52 negara asing telah membuka program bahasa Indonesia (Indonesian Language Studies). Bahkan, perkembangan ini akan semakin meningkat setelah terbentuk Badan Asosiasi Kelompok Bahasa Indonesia Penutur Asing di Bandung tahun 1999. Walaupun perkembangan bahasa Indonesia semakin pesat di satu sisi, di sisi lain peluang dan tantangan terhadap bahasa Indonesia semakin besar pula.
  Sama halnya di negara sendiri, pengunaan bahasa Indonesia yang merupakan sebuah kebutuhan untuk berbahasa sering di gunakan oleh kehidupan masyarakat pada umumnya untuk berinteraksi, kerkerjasama dan berkomunikasi. Seperti halnya penggunaan bahasa Indonesia tak hanya berlangsung di kalangan siswa, tetapi juga telah jauh meluas di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan, para pejabat yang secara sosial seharusnya menjadi anutan pun tak jarang masih ”belepotan” dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
        Dalam hal ini, mewabahnya penggunaan bahasa Indonesia bermutu rendah, lantaran belum jelasnya strategi dan basis pembinaan. Pemerintah cenderung cuek dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pusat Bahasa sebagai tangan panjangnya untuk menyusun strategi dan kebijakan. Upaya penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar tampaknya akan terus terapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika apabila tidak diimbangi dengan kejelasan strategi dan basis pembinaan. Mengharapkan keteladanan generasi sekarang jelas merupakan hal yang berlebihan. Berbahasa sangat erat kaitannya dengan kebiasaan dan kultur sebuah generasi. Yang kita butuhkan saat ini adalah lahirnya sebuah generasi yang dengan amat sadar memiliki tradisi berbahasa yang jujur, lugas, logis, dan taat asas terhadap kaidah kebahasaan yang berlaku.
        Melahirkan generasi yang memiliki idealisme dan apresiasi tinggi terhadap penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar memang bukan hal yang mudah. Meskipun demikian, jika kemauan dan kepedulian dapat ditumbuhkan secara kolektif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa, tentu bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan






















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Rumpun bahasa Austronesia (atau kadang disebut "bahasa kepulauan") adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.
Kebanyakan bahasa-bahasa Austronesia tidak mempunyai sejarah panjang dalam bentuk tertulis, sehingga upaya untuk merekonstruksi bentuk-bentuk yang lebih awal, yaitu sampai pada Proto-Austronesia, menjadi lebih sulit. Prasasti tertua dalam bahasa Cham, yaitu Prasasti Dong Yen Chau yang diperkirakan dibuat pada abad ke-4 Masehi, sekaligus merupakan contoh bukti tertulis tertua pula bagi rumpun bahasa Austronesia.
Berdasarkan fungsinya bahasa Indonesia dibagi menjadi 5 fungsi;
1. Ekspresif
Contohnya;mampu menggungkapkan gambaran,maksud ,gagasan, dan perasaan.
2. Komunikasi
Contohnya; sebagai alat berinteraksi atau hubungan antara dua manusia dan sehingga pesan yang dikmaksudkan dapat dimengerti.
3. Kontrol sosial
contohnya; tulisan “dilarang merokok” bahasa tersebut berfungsi sebagai pengatur atau pengontrol
4. Adaptasi
Contohnya;bila kita berada di wilayah atau daerah yang asing atau diluar ibu kota, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia tersebut sebagai alat untuk adaptasi dengan lingkungan baru tersebut.
5. Integrasi/pemersatu
      Upaya dalam pembinaa bahasa antara lain, melalui pengajaran, pemasyarakatan, peran media massa, dan jalur kepemimpinan. Pengembangan bahasa dilakukan melalui pengembangan kosakata/istilah, perluasan pemekaian bahasa, pembinaan kepada masyarakat, penelitian bahasa, dan pengembangan melalui media massa.
































DAFTAR PUSTAKA
http://sinaubsi.blogspot.co.id/p/upaya-pembinaan-dan-pengembangan-bahasa.html




















Tuesday, September 26, 2017

Laporan Respirasi Hewan dan Tumbuhan



PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
RESPIRASI
A.Pengertian Respirasi
           
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi.Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + O2 6CO2 + H2O + energi.

Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi untuk mengangkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah. Beberapa faktor yang mempengaruhi jalannya respirasi adalah temperatur, spesies, ukuran badan dan aktifitas.Respirasi atau oksidasi glukosa secara lengkap merupakan proses pembentukan energy yang utama untuk kebanyakan sel. Pada waktu glukosa dipecah dalam suatu rangkaian reaksi enzimatis, beberapa energy dibebaskan dan diubah menjadi bentuk ikatan phosphate bertenaga tinggi (ATP)dan sebagian lagi hilang sebagai panas. Proses keseluruhan dari respirasi merupakan reaksi oksidasi reduksi, yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO2
sedangkan O2 yang diserap direduksi membentuk H2O. pati, fruktan, sukrosa, atau gula lainnya, lemak, asam organic, protein dapat bertindak sebagai substrat respirasi. Respirasi umum glukosa, dapat ditulis sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2                            6CO2 + 6H2O + energy (ATP + panas)
          Respirasi merupakan rangkaian dari 50 atau lebih reaksi komponen, masing-masing dikatalisis oleh enzim yang berbeda. Respirasi merupakan oksidasi yang berlangsung di medium air, dengan pH mendekati netral, dan pada suhu sedang. Respirasi merupakan reaksi oksidasi senyawa organic yang menghasilkan energy yang digunakan untuk aktivitas sel dalam bentuk ATP atau senyawa berenergi tinggi lainnya.
          Lebih lanjut, sejalan dengan berlanngsungnya pemecahan, kerangka karbon antara disediakan untuk menghasilkan berbagai produk esensial lainnya.
Berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen respirasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.             Respirasi aerob
Yang menggunakan O2 sebagai terminal electron akseptor (respirasi yang memerlukan oksigen,penguraian lengkap sampai dihasilkan CO2 + H2O àoksidasi sempurna).
  Raksinya :  C6H12O6              à              6CO2 + 6H2O + ATP
2.             Respirasi anaerob
Yang tidak memerlukan oksigen tetapi asam organic sebagai electron akseptor (respirasi yang tidak memerlukan oksigen, penguraian bahan organic tidak lengkapà oksidasi tidak sempurna )
Raksinya :            C6H12O6                à       2C2H5OH + 2CO2 + ATP

v   Resprasi pada insecta
     Kelas hexapoda seringkali disebut sebagai insecta atau serangga, yang memiliki kaki yang berjumlah emanam. Namun tidak semua anggotanya selalu memiliki kaki enam. Golongan serangga primitif memmiliki kaki setiap ruas tubuhnya. Selama daur hidupnya serangga mengalami pergantian bentuk yang disebut metamorfosis, dengan jalan melakukan pengelupasan kulit yang disebut ekdisis. Metamorfosis ada dua macam, yaitu metamorfosis tak sampurna dan metamorfosis sempurna.
     Serangga dapat ditemukan di mana-mana, misalnya di air, darat, dan udara atau di tumpukan buku-buku. Ada yang hidup bebas ada juga yang pasarit. Ada yang mengeluarkan cahaya di malam hari, ada pula yang mengeluarkan suara yang nyaring. Ada yang memiliki
nilai ekonomi dan ada juga yang merugikan.  Serangga merpakan hewan yang paling sukses hidup didunia karena dapat beradaptasi dengan segala kondisi lingkungan.Anggota Insekta sekitar 900.000 jenis yang berbagi menjadi 25 ordo. Insekta dipelajari dalam ilmu khusus yaitu entomologi.

                                 I.Sistem respirasi pada insecta

          Corong hawa (trakea) adalah alat pernapasan yang dimiliki oleh serangga dan arthopoda lainya. Pembuluh trakea bermuara pada lubang kecil yang ada di kerangka luar (eksosleketon) yang disebut spirakel. Spirakel berbentuk pembulu silindris yang berlapis zat kitin, dan terletak berpasangan pada setiap segmen tubuh. Spirakel mempunyai katup yang dikontrol oleh otot sehingga membuka dan menutupnya spirakel terjadi secara teratur. Pada ummunya spirakel terbuka selama serangga terbang, dan tertutup saat serangga beristirahat.

          Oksigen dari luar masuk lewat spirakel. Kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya trakea bercabang lagi bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam.Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi cairan, dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara trakeolus dengan sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama dengan kalpiler pada sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata.
Makanisme pernapasan pada serangga, misalanya belalang, adalah sebagai berikut :
          Jika otot perut belalang berkontraksi, maka trekea mexrupih sehingga udara kaya CO2 keluar. Sebaliknya, kerja otot perut belalang berelaksasi maka trakea kembali pada volume semula sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai akibatnya udara di luar yang kaya O2 masuk ke trakea.
          Sistem trakea berfungsi mengangkut O2 dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan sebaliknya mengangkut CO2 basil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, darah pada serangga hanya berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas pernapasan.
          Di bagian ujung trakeolus terdapat cairan sehingga udara mudah berdifusi ke jaringan. Pada serangga air seperti jentik nyamuk udara diperoleh dengan menjulurkan tabung pernapasan ke permukaan air untuk mengambil udara.
          Serangga air tertentu mempunyai gelembung udara sehingga dapat menyelam ke dalam air dalam waktu lama. Misalnya, kepik Notonecta sp. Mempunyai gelembung udara di organ yang menyerupai rambut pada permukaan vertikal. Selama menyelam, O2 dalam gelembung dipindahkan melalui sistem trakea ke sel-sel pernapasan.
          Selain itu, ada pula serangga yang mempunyai insang trakea yang berfungsi menyerap udara dari air atau pengambilan udara melalui cabang-cabang halus serupa insang. Selanjutnya dari cabang halus ini oksigen diedarkan melalui pembuluh trakea.

v   Respirasi pada tumbuhan (kecambah kacang hijau)


Respirasi banyak memberikan manfaat bagi tumbuhan. Manfaat tersebut terlihat dalam proses respirasi dimana terjadi proses pemecahan senyawa organik, dari proses pemecahan tersebut maka dihasilkanlah senyawa-senyawa antara yang penting sebagai ”Building Block”. Building Block merupakan senyawa-senyawa yang penting sebagai pembentuk tubuh.

Senyawa-senyawa tersebut meliputi asam amino untuk protein; nukleotida untuk asam nukleat; dan prazat karbon untuk pigmen profirin (seperti klorofil dan sitokrom), lemak, sterol, karotenoid, pigmen flavonoid seperti antosianin, dan senyawa aromatik tertentu lainnya, seperti lignin.
         Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yaitu :
              · Ketersediaan substrat.
Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
              · Ketersediaan Oksigen.
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
              ·Suhu
Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10o C, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
              · Tipe dan umur tumbuhan.
Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
              · Kadar CO2 dalam udara.
Kurangnya O2 atau kelebihan CO2 tampak pada kegiatan respirasi biji-bijian, akar maupun batang yang terpendam dalam tanah. Jika kadar CO2 naik sampai 10 % dan kadar O2 turun sampai 0 % maka respirasi akan terhenti.
              · Persediaan air.
Jika kadar air sedikit maka respirasi kecil
Jika biji (direndam air) maka respirasi menjadi lebih giat
Pada daun yang layu maka respirasi lebih giat ++ gula (timbunan tepung/KH).
              · Cahaya.
Cahaya fotosintesis + substrat repirasi. Cahaya menambah panas, panas menambah kegiatan respirasi.

7
              · Luka
Jaringan yg luka/terbuka ++ respirasi aktivitas sel parenkim untuk menutup luka.
              · Pengaruh bahan kimia.
Zat penghambat respirasi diantaranya sianida, fluoride, Iodo asetat, CO diberikan pada jaringan. Dalam Konsentrasi rendah (eter, kloroform, aseton, formaldehida) menambah respirasi dalam waktu singkat.
1.2 Tujuan

Untuk menentukan banyaknya O2  yang dibutuhkan oleh hewan dan tumbuhan untuk respirasi.

1.3 Judul Dan Tanggal Praktikum

A.Judul : Respirasi Hewan Dan Tumbuhan
B.Tanggal Praktikum : 12 Februari 2014


8
BAB II
METODE
2.1 Alat
            A.Reapirometer
            B.Timbangan
            C.Kapas
            D.Pipet tetes
            E.Arloji
Bahan
A.Eosin
            B.Vaselin
            C.Kristal KOH
            D.Serangga(Jangkrik)
            E.Kecambah

2.2 Cara kerja

            1.Bungkus kristal KOH dengan kapas lalu masukkan ke dalam tabung respirometer.
            2.Masukkan seekor jangkrik / kecambah yang telah di timbang beratna kedalam
              botol respirometer,kemudian tutup dengan pipa berskala.
            3.Oleskan vaselin pada celah tertutup.
            4.Tutup ujung pipa berskala dengan jari-jari kurang lebih satu menit,kemudian
               lepaskan  dan masukkan setetes eosin / tinta dengan menggunakan pipet tetes.
            5.Amati dan catat perubahan kedudukan eosin pada pipa berskala tiap 3 menit
              selama 9 menit.





9
BAB III
HASIL
3.1 Tabel Pengamatan :

No.
Berat tubuh hewan /
Tumbuhan
Perpindahan kedudukan eosin(dalam skala)
3 menit
3 menit
3 menit
1.
Jangkrik (0,6 gr)
0,3
0,5
0,6
2.
Kecambah (0,4 gr)
0,25
0,35
 0,7

3.2 Pertanyaan:
1).Kearah manakah eosin bergerak?Mengapa?
Jawab : Ke arah serangga / kecambah,karena serangga dan kecambah membutuhkan oksigen sehingga antara eosin dan serangga / kecambah saling tarik menarik untuk mendapatkan oksigen.
2).Perhatikan tabel diatas.Hitung berapa volume menyuruh pipa kapiler yang di beri  skala ! kemudian hitung volume gas yang telah di pergunakkan oleh serangga/kecambah.Gas apakah itu ?
Jawab :
3).Menurut pendapatmu,dari percobaan ini faktor-faktoor apa saja yang berpengaruh?
Jawab : -Berat dari hewan dan tumbuhan
            -Aktifitas yang di lakukan oleh serangga / kecambah (aktif/pasif)
            -Kelembapan dalam respirometer
4).Apakah kebutuhan gas O2 per 3  menit nya sama?Apabbila tidak sama, apa faktor  penyebabbnya ?
Jawab :Tidak sama,karena semakin aktif jangkrik di dalam respirometer maka skalanya akan semakinn tinggi akibat kebutuhan  O2 yang semakinn tinggi.
5).Buatlah kesimpulan berdasarkan dari data yang tela didapatkan !
Jawab : Yang mempengaruhi adalah berat serangga / kecambah,aktifitas yang dilakukan serangga semakin aktif maka kebutuhan O2  yang semakin tinggi.
6).Apa fungsi KOH dalam botol?Apa alasanya KOH dibunngkus dengan kapas?
Jawab :Fungsi KOH adalah untuk mengikat CO2 sehingga pergerakan dari eosin akibat kebutuhan oksigen yang sangat tinggi.
10
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari data yang diambil melalui uji coba dengan respirometer sederhana. Mengukur kecepatan respirasi tumbuhan dan hewan dengan eosin . Data diambil dengan cara mengamati kedudukan larutan warna  pada skala respirometer tiap 3 menit.Hal ini dipastikan karena eosin  yang bergerak tersebut disebabkan oleh aktivitas kecambah ataupun belalang dan KOH. Peran KOH adalah mengikat CO2, karena KOH bersifat hidrofil (hydrofilic). Maka dari itu KOH dilapisi tissue agar sifat kaustik dari KOH tidak terlalu berefek pada makhluk hidup yang ada di dalam tabung ketika melakukan ekspirasi . CO2 dari sisa metabolisme kecambah atau belalang akan diikat oleh KOH. Volume udara yang berkurang akan menyebabkan adanya tekanan negatif yang menyebabkan eosin bergerak menuju tabung kaca yang berisi belalang. Sehingga semakin banyak udara yang dibutuhkan maka semakin cepat laju respirasinya, maka larutan berwarna  juga akan lebih cepat bergerak ke arah tabung
1.Respirasi pada jangkrik
  Laju respirasi pada jangkrik pada praktikum repirasi kali ini menggunakan jangkrik yang dimasukkan ke dalam respirometer. Jangkrik ini dimasukkan ke dalam tabung respirometer kemudian dimasukkan KOH yang berfungsi untuk mengikat CO2, namun KOH harus dibungkus terlebih dahulu dengan menggunakan kapas sebelum dimasukkan ke dalam tabung. Hal ini dimaksudkan untuk memisahkan jangkrik dengan zat kimia. Kemudian pada ujung pipa kapiler diberi cairan larutan berwarna  sebagai indikator sekaligus memisahkan udara yang ada di dalam tabung dan udara yang ada di luar tabung
2.Respirasi pada kecambah
  Laju respirasi pada kecambah perlakuan untuk mengukur kecepatan pada kecambah sama dengan perlakuan terhadap belalang. Menggunakan KOH untuk mengikat CO2 dan larutan berwarna  sebagai indikator sekaligus pemisah udara dalam dan luar tabung.






11
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
·         KOH  berfungsi sebagai peningkat CO2 agar respirasi terpicu menjadi cepat. Selain itu KOH juga berfungsi sebagai pengikat CO2.Kristal KOH dapat mengikat CO2 karena bersifat hidroskopis.
·         Respirasi dipengaruhi oleh massa tubuh, suhu dan jenis hewan/tumbuhan.  

5.2 Saran
        Dalam  praktikum lakukan dengan teliti sehingga dapat mendapatkan hasil yang akurat. Jangan mengubah/menggeser posisi respirometer agar laju eosin tidakterganggu.Sebaiknya, saat pengambilan KOH menggunakan sendok atau tissue karena jika terkena kulitakan  mengakibatkan gatal/panas. Dalam menyambungkantabung dengan pipa respirometer gunakan vaselin agar lebih mudah dilepas lagi danmenjaga agar udara dalam tabung tidak bocor (tidak tercampu rdengan udara luar).


12
DAFTAR PUSTAKA